Sobatpenghibur

Hidup adalah Sebuah Perjalanan

  • maturnuwun..

    Photobucket
  • asal_sobat

    Locations of visitors to this page
  • October 2009
    M T W T F S S
    « Sep   Nov »
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Archives

  • Info_sobat

  • Photobucket
  • Bisnis Kaos Ondel2

    Ondel2 merah Ondel2 Putih Photobucket http://ondelondelkaos.multiply.com/
  • sobat_tweet

    Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

  • wahyudi_fajr@yahoo.co.id

    Join 4 other followers

Seseorang yang menginspirasi dan memotivasiku..

Posted by fajr on October 9, 2009

Assalamu’alaikum..

Jum’at pagi ini 09 Oktober 2009, aku mau sedikit mengoreskan tulisan tentang kejadian semalam.

Sebuah kejadian/history tuk mengingatkan dan kembali menyemangatiku yang kebetulan sedang galau tadi malam.

Seperti diketahui semalam/kemarin Kamis’ 08 Oktober 2009 atau biasa disebut dengan malam Jum’at (malamnya sunah Rosul kata orang dewasa), tetapi bagiku malam Jum’at merupakan malam tuk menambah satu amalan ibadah, yaitu membaca Surat Yaasin yang sudah beberapa waktu belakangan ini rutin aku lakukan InsyaAlloh. Kiranya itu menjadi malam sunah buatku (tetapi tidak menjadi kewajiban/mengkhususkan hari tersebut).

Iya, seperti malam-malam biasanya lepas pulang kerja (jelang Maghrib) aku istirahat sejenak sampai tunggu waktu Magrib dan kebetulan kemarin aku puasa sunah di hari Kamis. Selang beberapa saat “TEK-terek-tek-tek,,.. dhoug-dug-DUG” dan kumandang Adzan Magribpun tersyiar di televisi maupun sayup-sayup terdengar dari speaker Masjid. Alhamdulillah, aku bisa berbuka ditemani dengan segelas teh manis buatan Ibu dan ngemil beberapa gorengan + snack. Lepas membatalkan puasaku, lalu aku beranjak tuk sholat Magrib dan kemudian makan besar.

Istirahat sejenak sambil lihat televisi, aku beranjak tuk mandi karena hari semakin larut. Sekitar jam 21.00 WIB aku Sholat Isya sesudah mandi malam dan dilanjutkan dengan membaca Yaasin. Ditengah membaca surat tersebut Aunti Indah (sapaan kakak dalam bahasa Padang) berbicara padaku; “Bang, hari ini kan 7 tahunnya Papa”, (Bang: Abang, panggilan kecilku).

Hah?? Sontak mendengar ucapan itu aku membalik buku Yaasin yang sedang kubaca dan kulihat tanggal yang tertera disana: Mengenang Alm. Bagindo Chaidir Thaib, tertanggal 08 Oktober 2002. Iya, ternyata sudah 7 tahun kepergian Papa menghadap Alloh SWT. Padahal sebelum memulai membaca tadi aku sempatkan melihat gambar Alm. Papa yang memang tertera di sampul halaman ke-2 tersebut tapi aku tidak begitu memperhatikan tanggalnya. Kulanjutkan bacaan Yaasin dan kuniatkan mengirim doa tuk Alm. Papa Chaidir, kiranya Alloh mau menerima semua amal ibadah beliau semasa hidupnya.

Sosok Papa ialah bukan orang asing buatku, beliau adalah seorang yang baik. Kupanggil Papa karena memang dia sudah seperti Papa/Ayah aku sendiri. Akupun sudah dianggapnya sebagai anaknya, walau sejatinya beliau bisa dikatakan sebagai orang tua asuh aku. Dari kecil memang aku tinggal bersama keluarganya bersama Ibuku. Dia yang membiayai aku sekolah, sampai akhirnya aku pindah bersama Ayahku saat memasuki SMP. Begitu banyak kenangan bersama beliau, dari yang dikenalkan ke tempat sanak-saudara sampai ke kerabat/kenalannya. Dulu paling sering aku diajak ke Tanah Abang, entah hanya untuk sekadar jalan-jalan ataupun hanya belanja kebutuhan rumah. Papa merupakan sosok seseorang yang Plural, tidak memandang status sosial maupun siapa orang itu. Mungkin hal itu beliau lakukan dari pengalaman hidupnya sendiri yang konon memang dari keluarga yang biasa saja. Kini sifat yang ada dalam diri beliau coba aku terapkan dalam kehidupanku sendiri.

Saat Papa tau aku lulus Sekolah dari Yogyakarta, dia segera menyuruh Ibu untuk membawaku kembali ke Jakarta untuk dapat segera meneruskan Kuliah. Namun karena ada masalah birokrasi keluarga sehingga 6 bulan setelah kelulusanku baru aku bisa ke Jakarta aku kan kembalii, itupun dilalui dengan perjuangan sebelumnya. Tadinya aku memang berniat tuk mencari pekerjaan di Jakarta, mengingat begitu kecil kesempatan dan lapangan kerja di Yogyakarta dan tak tahu bahwasannya Papa mau membiayai aku kuliah kala itu. Ketika aku ke rumah Papa, berbicara serta bercerita dan beliau tau kalau aku bermaksud mencari kerja, dia langsung bilang; Kamu mau jadi apa lulusan SMK/SMA?! memang mencari pekerjaan mudah, TIDAK!! Kamu harus kuliah, nanti Papa akan bilang sama anak-anak” (anak-anak: anaknya Papa). Itulah ucapan Papa yang seolah mencambuk serta membuka wawasan aku dan sampai saat inipun masih teringat betul akan ucapan itu. Setelah, kejadian itu akhirnya aku bisa melanjutkan kuliah di salah satu PTN di Jakarta-Depok, dengan status sebagai Amd. Namun sangat disayangkan tak lama berselang saat aku masuk kuliah, Papa dipanggil Alloh tuk segera menghadapNa, iya tepat pada 7tahun silam 08 Oktober 2002. Papa menderita sakit dan harus dirawat di Rumah Sakit beberapa hari sampai akhirnya pergi meninggalkan kami tuk selamanya.. Satu memorable yang masih aku ingat jelas ialah pesan terakhir Papa; “Bang, kamu harus jadi orang. Selesaikan kuliahmu dan jaga Ibumu dengan baik”. Itulah perkataan terakhir kali aku berjumpa Papa saat aku menjenguknya ke RS. Aku tau betul maksud kata-kata tersebut. Kiranya sampai saat ini bisa memotivasi aku tuk terus berjuang menjalani roda kehidupan ini yang entah sampai kapan akan berakhir. Mungkin juga hari ini, besok, lusa, minggu/bulan/tahun depan, atau beberapa tahun kedepan akupun akan menyusul Papa kesana..

Wallahu a’lam bi shawab..

In Memoriam

IMG_0002

Selamat jalan Papa, semoga engkau tenang disisiNya. Abang berharap Papa bisa melihat keadaanku saat ini, mungkin memang belum menjadi “orang yang seutuhnya”, namun kiranya semangat dan motivasi Papa akan abang bawa kemanapun berpijak dan sampai kapanpun. Entah sampai kapan bisa berada dalam Kapal ini.

Terimasih atas segala perhatian dan kasih sayang yang telah engkau berikan semasa hidup.

Wassalam

my signature

8 Responses to “Seseorang yang menginspirasi dan memotivasiku..”

  1. mifta said

    ga sadar mata ini berkaca2 membaca tulisan ini,, dan teringat abah dan umi di rumah..
    memang sungguh besar perjuangan orang tua demi kesuksesan anaknya..

    Semoga Allah memberi tempat dan balasan terbaik utk Papa abang.
    amin..

    • alhamdulillah, terimakasih ya Mifta udah luangkan waktu buat baca kisahku..

      iya, sudah sepatutnya kita membahagiakan orang tua kita yang sudah rela berkorban demi kemajuan anak-anaknya, karena tidak mungkin kita bisa membalas semua kasih sayangnya.😦

  2. madix said

    sangat menyentuh mas….
    menyadarkan bahwa aku masih gada apa2nya dimata orang tua yang slama ini mngharapkan anaknya tuk jadi dewasa n jd cntoh adik2nya…
    hiks

    • iya,,..
      sudah sepatutnya kita membalas budi terhadap orang tua kita, setidaknya bisa membahagiakan mereka itu sudah merupakan bentuk pengabdian kita.
      “janganlah menjadi anak yang durhaka”.

  3. prast said

    Satu memorable yang masih aku ingat jelas ialah pesan terakhir Papa; “Bang, kamu harus jadi orang. Selesaikan kuliahmu dan jaga Ibumu dengan baik”.

    Ayo brow semangadd.. ST diambang pintu, jalan masih panjang..
    Sesungguhnya Allah meninggikan derajat rang yang beriman dan berilmu.. semoga kita termasuk didalamnya.. Amien🙂

  4. sari said

    Sedih😦

    Setiap orang memiliki sebuah cerita hidup.
    Semangat bang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: