Sobatpenghibur

Hidup adalah Sebuah Perjalanan

  • maturnuwun..

    Photobucket
  • asal_sobat

    Locations of visitors to this page
  • November 2016
    M T W T F S S
    « Sep    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    282930  
  • Archives

  • Info_sobat

  • Photobucket
  • Bisnis Kaos Ondel2

    Ondel2 merah Ondel2 Putih Photobucket http://ondelondelkaos.multiply.com/
  • sobat_tweet

    Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

  • wahyudi_fajr@yahoo.co.id

    Join 4 other followers

In Memoriam, Ibu Mariyam

Posted by fajr on November 16, 2016

Kenangan Lebaran terakhir bersama Ibu3 Oktober 2016

Sudah hampir satu pekan ibu dikabarkan terbaring sakit dikamar dan tidak mau bangun dari tempat tidurnya. Aku yang di perantauan ini hanya bisa memonitor dari jauh keadaan Ibu. Disamping itu, sulit untuk bisa menghubungi Ibu karena di dalam kamarnya jarang ada sinyal telepon.

Sekitar minggu lalu sempat video call terakhir dengan ibu, sebelum terbaring sakit. Kami hanya berbicara seperti biasa menanyakan kabar dan memang saat itu Ibu sakit tangannya bengkak yang diagnosa Dokter digigit serangga atau radang. Saat video call terakhir itu kabar ibu membaik, tapi ditengah pembicaraan kami Ibu tiba-tiba menangis, Aku pun bertanya “Ibu kenapa”? dan beliau tidak menjawab apa-apa. Aku hanya meneruskan pembicaraan; “Abang baik2 saja bu, ibu pun baik-baik ya, sehat” dan beliau hanya mengangguk. Mungkin ini sebuah firasatnya.

4 Oktober 2016

Tiba-tiba mba Tini, kakak sepupu dari kampung mengabarkan Ibu minta dijemput pulang ke Jogja. Meminta ijin saya apakah diperbolehkan mengingat ibu masih sakit. “Baik, aku akan konfirmasi dulu mbak ke Ibu, jawabku” Tetapi Ibu masih sulit dihubungi. Malamnya sudah dapat kabar kembali kalau keluarga dari Jogja sudah dalam perjalanan ke Jakarta.

Sebenarnya keluarga di Jakarta menginginkan agar ibu bisa dirawat di RS, karena kondisi semakin lemah dikarenakan tidak mau makan kurang lebih seminggu. Iya, aku paham betul jika ibu sakit, hanya mau berbaring dan makan harus dipaksa.

5 Oktober 2016

Keluarga Jogja tiba di Jakarta, menurut cerita kondisi ibu sudah semakin lemah, sehingga langsung dibawa ke RS untuk diperiksa kembali. Hasil diagnosis, Gula darah ibu tinggi 560, ada infeksi dan dehidrasi, serta kurang cairan. Seharusnya ibu segera dirawat dan sudah mendapat rujukan agar ke RS yang besar, tetapi ibu bersikeras minta untuk dibawa pulang dan dirawat di Jogja saja.

6 Oktober 2016

Ibu dan keluarga sudah sampai di Jogja sekitar jam 10 pagi. Cerita mba Tini, Ibu dibawa pulang dulu kerumah untuk dimandikan dan makan karena kondisinya sudah tidak layak jika langsung dibawa ke RS. Barulah sore harinya dibawa ke RS, untuk dirawat disana.

7 Oktober 2016

Satu malam dirawat di RS, sekitar jam 8 malam Ibu dikabarkan Kritis, dokter menyarakan agar keluarga ikhlas dan dibimbing untuk dibacakan do’a. Keluarga berinisiatif mengundang pak Ustad, untuk memimpin dan memandu membacakan do’a.

Akupun terus mendo’akan Ibu agar diberikan kesehatan dan diangkat segala penyakitnya. Saat itu aku menidurkan anak lanang sebentar, terdengar suara BBM, telepon berulang-ulang dan aku langsung bergegas.

Jam 22:30 WIB ibu dikabarkan sudah menghembuskan nafas terakhirnya di RSUD Wonosari. “Innalillahi Wa Inna illaihi Rojiun”

Rasa kantuk sekejap hilang, sedih yang teramat dalam dan tanpa terasa air mata menetes di pipi..

Akhirnya menelpon keluarga di Jogja untuk mengetahui keadaan disana. “ikhlaskan Ibu, kami sudah berusaha yang terbaik”, “iya, terimakasih” jawabku singkat.

Air mata ini terus mengalir, sampai akhirnya berhenti dan aku mengambil air wudhu untuk shalat dan mengaji. Aku harus ikhlas akan kepergian Ibu, berharap sakitnya ini sebagai penghapus dosa-dosanya. Alloh lebih sayang Ibu, melebihi sayangnya aku yang mungkin belum bisa menjaganya dengan baik.

Bingung harus bagaimana, mau pulang tapi jarak yang jauh, disamping itu dengan beberapa pertimbangan lain. Sempat pasrah karena tidak bisa pulang dan mengabarkan orang di Jogja, Jakarta.

Paginya, setelah mendapat wejangan dari kerabat, saudara, akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke Jogja. Iya, beban psikologis keluarga dan aku sendiri tentunya tudak bisa tergantikan disaat seperti ini. Disana semua keluarga memang menanti kehadiranku. Sebelum penyesalan itu dating kemudian hari, memang aku tidak bisa memandikan, menyolatkan, menguburkan atau bahkan melihat Ibu untuk terakhir kalinya, namun setidaknya masih bisa melihat makamnya yang masih Indah.

“Ya Alloh, jagalah Ibu disisiMu, ampunilah semua dosa dan kekhilafannya, lapangkanlah kuburnya, jauhkan dari siksa dan kelak pertemukan kami kembali disana. Sampaikanlah rindu kami kepadanya, terimalah doa kami untuknya, sebagai balasan atas semua yang telah dia berikan. Sebagai jawaban atas cinta kami padanya” Aamiin,..

ini senyum Ibu ketika masih muda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: